Pendidikan Karakter dalam Keluarga (1)

Oleh : Thobib Al-Asyhar
Dosen Psikologi Islam pada Kajian Timteng dan Islam, SKSG Universitas Indonesia
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/121358/pendidikan-karakter-dalam-keluarga

 

Keluarga, tema kehidupan yang tak pernah usang. Entitas sosial terkecil masyarakat yang sangat dinamis. Melalui keluarga, masyarakat menjadi ada. Negara tidak akan pernah ada tanpa kehadiran keluarga-keluarga. Bahkan maju mundurnya sebuah peradaban, tak lepas dari peran keluarga. Lalu keluarga seperti apa yang bisa menjadi penopang peradaban? Para ahli berkata, keluarga yang bahagia. Bahagia itu memang relatif. Abstrak. Tidak diukur oleh keberlimpahan materi. Bahagia itu muncul dari jiwa yang hanif. Jiwa yang sumeleh (baca: Jawa). Jiwa yang nrimo dan memiliki kemembalan dalam menghadapi badai kehidupan. Dalam idealitas agama disebut jiwa muthmainnah. Jiwa yang tenang dan terhubung dengan Sang Khaliq. Kemudian, apa yang bisa membentuk jiwa muthmainnah? Hakikatnya, jiwa itu “bergerak”, dinamis. Sebagian ulama menyebut, jiwa sama dengan ruh. Secara etimologi, ruh berarti kehidupan. Dengan jiwanya, manusia menjadi energik, bergelora. Wajar, saat seseorang lesu dibilang telah kehilangan spirit. Nah kondisi jiwa naik turun. Kadang mencapai puncak takwa. Kadang turun karena dorongan maksiat atau kesenangan material (QS: Al-Syams: 8).

Dalam posisi naik turun, sebenarnya ruh dalam jasad (jasmani) manusia itu gelisah. Tidak nyaman. Kenapa? Karena ruh memiliki sifat suci. Cenderung kepada keabadian. Sedangkan, jasad cenderung kepada kebendaan. Lebih menyukai kesementaraan. Condong kepada unsur-unsur kesenangan (pleasure). Sebab itu, agar manusia memiliki jiwa yang hanif, mereka harus mendapatkan pendidikan karakter yang baik dan tepat. Kalau bicara manusia, tentu bicara anak. Anak sebagai manusia kecil harus dididik sejak dini agar mampu mengemban amanah khalifah (QS: Al-Baqarah: 30). Kenapa fokus pendidikan pada anak? Karena anak adalah penerus generasi kehidupan manusia. Mereka terlahir bukan saja mewarisi secara biologis, tapi mewarisi karakter, tradisi, dan cita-cita. Namun, bukan berarti tidak penting pendidikan bagi orang dewasa. Bukankah prinsip dari pendidikan adalah: education for all?

Kemudian siapa yang harus mendidik anak-anak? Dididik dengan apa? Dua pertanyaan yang sangat penting. Semua orang harus bisa menjawab itu. Jika tidak, maka merenunglah dalam kesendirian. Menyingkirlah dari keramaian. Berpikirlah seperti banyak saran dari kitab suci. Siapa sesungguhnya kita? Kenapa kita ada? Kemana kita harus menuju? Menjawab pertanyaan pertama, siapa yang wajib mendidik anak? Pastinya itu menjadi tanggung jawab orang tuanya. Dua orang, yang karena mereka, anak menjadi ada. Lugasnya, ayah dan bunda (bapak-ibu). Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak, khususnya karakter mereka. Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Baik buruknya anak akan menjadi cerminan orang tuanya. Sedangkan jawaban kedua, dididik dengan kearifan. Kearifan akan muncul saat ditanamkan nilai-nilai karakter (akhlak). Akhlak yang seperti apa? Akhlak yang mampu membuat dirinya mengerti siapa hakikat dirinya. Yang mampu menghormati orang lain. Yang mampu mencintai terhadap peradaban ilmu. Dan yang mampu memiliki insight tentang ketuhanan dan mengerti bagaimana cara mengabdi kepada-Nya. Nah, pada level inilah orang tua wajib mendidik tentang nilai-nilai agama kepada anak sejak dini sebagai pondasi kehidupan. Dimulai dari rumah. Dimulai dari kebiasaan seluruh anggota keluarga. Bukan hanya mengandalkan pendidikan agama dari Lembaga formal. Rumah adalah “sekolah pertama” bagi anak yang harus dikelola oleh orang tuanya dengan baik. Muhammad Qutub berkata dalam kitabnya, Minhajul Al-Tarbiyyah Al-Islamiyyah: Rumah, jalan, sekolah, dan masyarakat adalah pilar pendidikan dasar. Rumah adalah influencer pertama, dan merupakan yang paling kuat dari pilar-pilar tersebut”. Lalu bagaimana konsep pendidikan karakter dan pembiasaan perilaku keagamaan di rumah? Apalagi di masa-masa pandemi Covid-19 yang mengutamakan semua anggota keluarga sering tinggal di rumah?

Kita semua sepakat dan mengerti, pendidikan karakter sangat penting dalam keluarga. Saat lahir, bayi diperkenalkan orang tuanya tentang konsep beragama. Begitu keluar dari rahim ibunya, telinga kanan dikumandangkan adzan dan telinga kiri dibacakan iqamah. Apa maknanya? Bayi diperkenalkan terhadap nama Tuhan. Kebesaran Tuhan. Persaksian kepada Tuhan dan rasul-Nya. Pesan agar bergegas melaksanakan shalat saat dipanggil, dan lain-lain. Sebuah proses spiritual paling awal di alam dunia yang dialami si jabang bayi. Meski memiliki jiwa yang suci (fitrah), bayi tetap membutuhkan input dan pengalaman-pengalaman positif (positive experiences) dari orang tua dan lingkungan.

Input pengetahuan dan praktik kebaikan (best practices) orang tua akan sangat mempengaruhi saat dewasa kelak. Bukankah usia anak dari 0-5 tahun adalah golden age (usia emas)? Jika saat usia tersebut salah input, maka akan melukai keseluruhan jiwa yang dapat mengganggu normalitas psikologisnya. Baca juga: Pendidikan Karakter dalam Keluarga (1) Banyak teori dari psikolog Barat tentang perkembangan anak. Namun kebanyakan teori itu tercipta dari hasil uji coba empirik. Hasil dari rangkaian hipotesa yang tidak holistik. Manusia hanya dilihat dari penggalan-penggalan jiwa, bahkan perilaku, sehingga belum mendefinisikan tugas dan fungsi manusia seutuhnya. Adakah yang salah dari hasil riset-riset tersebut? Secara parsialitas teori tentu tidak. Mereka memiliki standar positivisme sendiri yang disebut “pijakan ilmiah”. Terukur (measurable), konstan hasilnya saat diuji berulang kali, dan memiliki sandaran empiristik (dapat dibuktikan). Akan tetapi jika dilihat dari konteks manusia secara holistik menjadi bermasalah. Untuk membincang hal tersebut memang tidak cukup dalam ruang ini. Apalagi tema artikel ini adalah pendidikan karakter dalam keluarga. Sehingga cukuplah disinggung sedikit bahwa ada “part-part” psikologis manusia yang tidak disentuh oleh kajian psikologi mainstream. Karena itu, penting disinggung sekadar memberikan gambaran bahwa ada aspek psikologis manusia yang tidak dicover oleh psikolog Barat. Apa itu? Yaitu stimulasi untuk mengembangkan transendensi diri manusia sehingga memiliki konektivitas ketuhanan sebagai sumber pembentukan karakter.

Transendensi diri manusia akan membentuk kesempurnaan akhlak. Akhlak kepada sesama. Akhlak kepada lingkungan. Akhlak kepada Sang Pencipta. Di sinilah peran pendidikan agama dan pengalaman keagamaaan (religious experiences) dalam keluarga menjadi sangat dibutuhkan. Bagaimana dengan pendidikan budi pekerti yang menjadi keunggulan budaya bangsa kita? Dalam banyak hal, pendidikan budi pekerti inline dengan pendidikan karakter yang dituju agama. Hanya saja, budi pekerti kadang berhenti pada level afektif semata yang tak terhubung langsung dengan Tuhan. Ini bertentangan dengan main goal dalam beragama. Banyak orang yang berprinsip, lebih baik berbudi pekerti meski tanpa agama dari pada beragama tapi tidak berbudi pekerti. Nah ini titik krusialnya. Jika kita beragama dengan benar, maka seharusnya inline dengan pembentukan akhlaq al-karimah (karakter mulia). Karena misi utama agama adalah pembentukan akhlak. Rasulullah bersabda: sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Artinya, orang yang beragama seharusnya seia sekata dan seperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika kita salah dalam memahami dan mempraktikkan ajaran agama akan menjadi kontraproduktif. Apa yang dilakukan dalam ritual-ritual agama berbeda dengan praktik sikap dan perilaku sehari-hari. Nilai-nilai agama hanya berada dalam menara gading, dan ini justru bertentangan dengan misi dari agama itu sendiri. Karena itu, untuk membentuk anak yang berkarakter dibutuhkan pendidikan agama di rumah (keluarga). Ingat, di sini menggunakan istilah pendidikan, bukan pembelajaran. Pendidikan menyangkut totalitas penyampaian wawasan, internalisasi, dan pengalaman kehidupan keagamaan. Bukan sebatas transfer of knowledge yang hanya sebatas pada wilayah kognitif seperti kebanyakan yang terjadi di sekolah-sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *