Memimpin dan Mamanage Lembaga Pendidikan Islam (2)

Muhammad Subhan
Direktur Lembaga Pendiikan Islam ABFA Pamekasan

Sikap mental yang harus dibangun selanjutnya adalah keikhlasan. Memanage lembaga pendidikan Islam harus didudukkan dalam konteks beribadah kepada Allah secara penuh dan mendalam. Konsep ini dalam bahasa Islam adalah lillah. Suasana batin yang mengarahkan kegiatannya hanya semata-mata didasari oleh niat untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau kelompok dalam berbagai bentuknya tidak akan mengantarkan yang bersangkutan memiliki integritas yang tinggi. Jiwa ikhlas yang tumbuh dan

berkembang dari seorang pimpinan lembaga pendidikan Islam, akan melahirkan suasana ruhhul jihad. Jika suasana ini mampu ditumbuh-kembangkan, lembaga pendidikan telah memiliki kekuatan yang kukuh yang diperlukan olehnya.

Selanjutnya adalah adanya kesadaran dan bertanggung-jawab merupakan sikap mental yang harus dibangun secara bersama. Setiap muslim harus membangun keyakinan bahwa semua amal perbuatan harus dapat  dipertanggung-jawabkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pertanggung-jawaban jangka pendek diberikan pada setiap saat, sedangkan tanggung-jawab jangka panjang diberikan kepada Allah swt., di akherat nanti. Seorang muslim dan mukmin harus meyakini adanya hari atau waktu di mana semua perjalanan hidup seseorang dimintai pertanggung-jawaban. Kesadaran yang mendalam tentang konsep ini semestinya mampu membangun sifat kejujuran yang seharusnya disandang oleh pimpinan dan seluruh unsur yang terlibat dalam kepemimpinan lembaga pendidikan Islam.

Prinsip penting lainnya adalah bahwa seorang manager harus mempertegas keyakinannya bahwa Allah adalah dzat yang harus selalu menjadi sentral perhatian baik dalam pengabdian (ibadah) maupun dalam mendapatkan pertolongan. Keyakinan seperti ini menumbuhkan sikap mental yang menjadikan dirinya tidak terikat oleh kekuatan apapun bentuknya dan dari manapun datangnya. Mereka akan menganggap bahwa tidak ada makhluk apapun yang dapat mengkooptasi dan menghegemonik. Mereka akan memiliki pikiran dan kemauan bebas dalam membawa lembaganya pada tujuan yang diinginkan. Lebih dari itu, keyakinan seperti ini akan mampu memposisikan lembaga pendidikan yang dikembangkan tidak lebih sekedar sebagai instrument untuk mencapai ridho Allah semata. Kemajuan lembaga pendidikan Islam bukan dipahami sebagai tujuan,melainkan sekedar sebagai instrumen untuk meraih tujuan akhir yang akan dituju dalam hidupnya.

Memanage orang sama artinya dengan mempengaruhi hati dan pikiran orang-orang. Pekerjaan mengarahkan hati dan pikiran orang tidaklah mudah. Oleh karena itu seorang manager atau pemimpin lembaga pendidikan Islam harus selalu memohon petunjuk kepada Allah swt. Petunjuk itu sesungguhnya telah terbentang luas, baik yang tertulis maupun yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.

Petunjuk tertulis berupa kitab suci al Qur’an dan tauladan kehidupan yang diberikan oleh Muhammad sebagai rasul-Nya. Petunjuk yang tidak tertulis tersebar luas di alam atau jagad raya ini. Manusia dengan ketajaman akal, hati dan penglihatannya akan mampu menangkap ayat-ayat Allah ini.

Manager harus juga sadar betapa pentinya sejarah. Sejarah menunjukkan bahwa jagad raya ini telah dihuni oleh orang-orang yang berhasil memperoleh nikmat, tetapi selain itu juga dihuni oleh orang-orang yang gagal dalam hidup, sehingga mereka memperoleh laknat. Sejarah dapat juga mengenai peristiwa masa lalu yang jauh sebelum kita, tetapi dapat pula berupa peristiwa-peristiwa tentang hal apa saja di sekitar kita yang pernah dapat dilihat dengan mudah. Semua itu dapat menjadi pelajaran untuk membangun sikap, perilaku, watak yang menyelamatkan dalam kehidupan dan bukannya yang menyesatkan, termasuk pelajaran untuk mengelola lembaga pendidikan Islam.

Jika seorang manager mampu membangun watak, kharakter dan perilaku pribadi dan juga semua orang yang menjadi tanggung-jawabnya, sehingga memiliki prinsip-prinsip hidup sebagaimana diurai di muka, maka sesungguhnya sebagian besar tugasnya telah selesai. Selain itu, jika prinsip-prinsip itu pula telah merasuk pada hati sanubari yang mendalam pada seluruh komponen yang ada, maka persoalan apapun yang ada dalam lembaga pendidikan Islam akan dapat diselesaikan dengan mudah. Persoalannya adalah, bagaimana hal itu benar-benar dapat diwujudkan oleh pemimpin dan manager pendidikan Islam di semua tingkatan ?. Itulah yang menjadi persoalan besar kita bersama. Tetapi, Rasulullah pernah memberikan petunjuk, bagaimana menggerakkan orang tatkala kita memimpin atau juga ketika sedang memanage organisasi , ialah kata Rasulullah, dengan ibda^ binafsika. WAllahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *