Memimpin dan Mamanage Lembaga Pendidikan Islam (1)

Oleh : Muhammad Subhan
Direktur Lembaga Pendidikan Islam ABFA Pamekasan

Seharian ini waktu saya di habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas fungsional sebagai pendidik (baca ; Dosen) disamping tugas-tugas struktural di kampus semua dikerjakan dengan sistem daring yaitu online karena dampak pandemi covid 19 yang mengharuskan menggunakan pendekatan model daring tersebut. Kendati dari tugas fungsional itu ada ampuan mata kuliah yang sangat saya sukai yaitu mata kuliah Manajemen PAUD Di Program STUDI PAUD FKIP dalam pengantar perkuliahan tadi saya memulai dengan wacana bahwa tatkala seseorang berposisi sebagai manager lembaga pendidikan Islam, sudah barang tentu di benaknya tergambar bahwa tugas yang harus diemban adalah memajukan lembaganya, dengan cara menggerakkan seluruh potensi yang ada, guna mencapai tujuan yang diinginkan. Cita-citanya, ketika itu, ialah saya harus berhasil dan tidak boleh gagal, hanya dalam kenyataannya, tidak semua orang mampu meraih keberhasilan itu.

Pada umumnya, para manager lembaga pendidikan Islam sudah memahami bahwa lingkup tugas-tugas managerial (baca ; prinsip-prinsip manajemen) adalah menyusun perencanaan, mengorganisasi semua kegiatan dan potensi yang ada, menyusun anggaran, mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi. Selain itu, mereka juga memahami bahwa bagian dari tugas pimpinan lembaga pendidikan Islam adalah merumuskan visi, misi secara jelas. Akan tetapi, lagi-lagi, hasil yang diperoleh tampak variatif, sebagian berhasil, sedang sebagian lainnya kurang berhasil dan bahkan ada yang selalu mengalami kegagalan.

Salah satu  varian memimpin adalah memanage orang, dimana pada kenyataannya tidak selalu mudah. Hal itu disebabkan oleh karena setiap manusia memiliki kharakteristik, watak, prilaku, kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Sifat dan cirri-ciri yang berbeda-beda itulah yang menyebabkan mereka tidak sedemikian mudah diajak mencapai satu tujuan yang sama. Perbedaan yang bersifat individual maupun kelompok diakibatkan oleh perbedaan latar-belakang sejarah hidup, tingkat ekonomi, budaya, idiologi, latar-belakang pendidikan dan mungkin pembawaan sejak lahir.

Tetapi anehnya, sekalipun begitu, kadangkala juga ditemukan fenomena sebaliknya, bahwa memimpin dan mengatur orang merupakan kegiatan yang amat mudah. Sebab, ternyata masing-masing orang, tanpa intervensi pihak luar, sudah memiliki kemampuan menata diri sendiri. Dalam kaitan mencari upaya strategis memanage dan memimpin orang perlu dicari prinsip-prinsip dasar seperti apa yang dapat dijadikan kekuatan penggerak organisasi lembaga pendidikan Islam ini. Uraian berikut merupakan hasil renungan dan hasil pengamatan saksama, kapan seseorang mudah digerakkan dan diarahkan pada tujuan-tujuan organisasi, termasuk pada lembaga pendidikan Islam.

Sebagai kunci utama yang harus ditumbuh-kembangkan pada semua lapisan organisasi adalah rasa cinta pada lembaga, yakni lembaga pendidikan Islam kita yang sedang kita dirikan, kita rawat, kita kembangkan dan kita buat maju lembaga. Cinta atau dalam bahasa lainnya adalah integritas tinggi, merupakan kunci keberhasilan. Berbagai fenomena kehidupan, ternyata cinta/kasih sayang menjadi sumber kekuatan kehidupan, keberhasilan dan bahkan juga kejayaan. Seseorang lahir, tumbuh dan berkembang sempurna oleh karena adanya cinta dan kasih sayang. Tumbuh-tumbuhan, binatang dan bahkan alam ini menjadi tumbuh dan berkembang oleh karena karunia Allah atas sifat-Nya mulia yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Begitu pula manusia menjadi hidup dan bahagianya oleh karena cinta-Nya kepada makhluk yang dimuliakan ini. Sebaliknya, alam dan lingkungan hidup menjadi rusak, manusia saling bermusuhan atau perang, saling membunuh satu sama lain, oleh karena di sana tidak ada cinta. Cinta adalah merupakan fenomena hati, tetapi ternyata juga dapat ditumbuh-kembangkan dan bahkan dapat diukur lewat prilaku yang tampak.

Orang yang telah mencintai sesuatu biasanya tidak saja akan memperlakukan sesuatu itu secara baik, melainkan dan bahkan akan bersedia berkorban demi cinta yang diberikannya. Membangun cinta dapat dimulai dari proses mengenali (ta^aruf) yang akan menghasilkan pemahaman. Pemahaman yang mendalam akan melahirkan suasana penghormatan (tadhomun) atau menghargai dan selanjutnya akan tumbuh suasana mencintai. Islam sesungguhnya membangun tradisi ta^aruf yang sedemikian kukuh lewat berbagai aktivitas spiritual maupun social. Pertanyaannya dalam konteks lembaga pendidikan adalah, adakah kesediaan para pemimpin, manager, guru dan tenaga kependidikan  lembaga pendidikan Islam membagi-bagikan cita dan kasih sayangnya secara menyeluruh dan mendalam termasuk menumbuh-kembangkannya kepada semua komponen yang ada (para dosen, guru dan karyawan) lewat tradisi yang diajarkan Islam melalui bebagai kegiatan spiritual dan social itu.(Berlanjut……)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *