KEPEMIMPINAN PEREMPUAN MILENIAL

Oleh : Yulyana Dewi, ST
Pegawai Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur

Kemarin tidak sengaja melihat sekilas IG salah seorang pemimpin TOP Indonesia, yang telah membawa Indonesia harum namanya dimana-mana, berkat kepiawaiannya berdiplomasi dengan berbagai negara di dunia.

Sebut saja prestasi spektakuler perempuan energik paro baya yang tidak kalah dengan usianya, salah satunya adalah kepemimpinannya dalam sidang Dewan Keamanan PBB akhir-akhir ini dengan agenda; mengutuk pendudukan Israel atas wilayah Palestina, pertemuan tersebut bersifat informal di 9 Mei 2019 lalu, hingga melahirkan hampir 700 resolusi yang mengecam tindakan Israel atas permukiman Israel yang di dirikan diatas tanah Palestina.

Perempuan yang memiliki target untuk menjadi anggota Dewan HAM PBB, setelah setahun yang lalu berkat usaha diplomasinya mampu membawa Indonesia menjadi anggota tidak tetap dalam dewan keamanan PBB. Tiba-tiba hari itu saya lihat di video singkat IGnya, Dia dengan santai dan cueknya, duduk ‘ndoprok ngelap godong’ (duduk bersimpuh sambil membersihkan daun dengan lap/pembersih).

Dia bergabung dengan para staf kementeriannya, dalam rangka mempersiapkan acara buka puasa bersama, dengan model liwetan (makan bersama-sama di selembar utuh daun pisang, lengkap dengan sayur dalam sebuah kendil).

Acara yang digelar ‘gayeng’ / ‘guyub’ yang memisahkan jarak antara seorang pemimpin, dengan para pegawai /bawahannya. Sekat yang membelenggu itu hilang, luluh dalam kebersahajaan dan jiwa keibuan beliau, menteri luar negeri Indonesia Retno Lestari Priansari Marsudi.

Pun lain waktu, tak sengaja pula saya melihat sosok pemimpin perempuan lainnya, sibuk bercengkrama dalam sebuah acara ramah tamah, dengan beberapa orang staf di kementeriannya, dan dia tidak jengah mendatangi para stafnya, makan bersama di kantin, dengan menu yang sama.

Kemudian dengan teliti beliau memeriksa seluruh fasilitas yang bisa di berikan oleh kementeriannya, pada kaumnya ‘perempuan’ agar dapat menjaga produktifitasnya, yaitu sudut menyusui yang memadai di beberapa tempat, kemudian fasilitas penitipan anak yang ada di kementriannya, klinik terpadu ibu dan anak, serta memastikan kenyamanan dan kebersihannya masih layak terjaga, untuk memfasilitasi kebutuhan karyawatinya saat bekerja di kementrian.

Katanya dalam sebuah warta, ” Mereka para perempuan, memiliki tingkat produktifitas yang setara, dan bahkan lebih dari laki-laki, asal kita bisa memahami kebutuhannya, termasuk menyediakan berbagai fasilitas yang memadai di institusi kita, agar mereka tetap tenang dan nyaman saat bekerja, ketika meninggalkan anak-anak tak jauh dari jangkauannya, dengan demikian ada peningkatan kualitas dan kuantitas terhadap kinerjanya”, paparnya gamblang.

Well, Siapakah dia?

Iyes…Sri Mulyani.

Satu perempuan lainnya, rela turun ke jalan, memperjuangkan hakikat dan martabat kaumnya dengan kekuatan dan kepekaan rasa keibuannya, dan tentu saja keberaniannya menutup tepat paling kontroversial di Surabaya, yang konon kabarnya sempat menjadi salah satu sumber penghasilan Pemkot Surabaya, melalui perjuangan panjang, masa kepemimpinannya, dan pikiran sempit khalayak, yang sempat meremehkan keberhasilannya, karena beberapa dekade pergantian walikota, tidak ada satupun yang berhasil menutup, tempat yang konon kabarnya menjadi daya tarik asia, hingga menjadi ‘tourism destination’, tapi dengan kegigihannya mitos itu runtuh.

Ditutuplah ‘prostitusi’ jalan Dolly, yang membuat kagum banyak orang, dan menyulapnya menjadi tempat destinasi wisata gaya baru, yang lebih humanis serta manusiawi, terlepas dari bagaimana kemudian dampak-dampak yang sengaja di sampaikan pihak-pihak yang menyuarakan, bahwa, “Sejak dolly di tutup, banyak prostitusi liar bertebaran, termasuk yang online, dan yang tertangkap tangan tersebar di berbagai tempat”.

Tapi setidaknya pemimpin perempuan itu menutup pintu legitimasi terhadap prostitusi di wilayahnya, mengangkat derajat dan status anak-anak yang ikut terjerumus dalam kehidupan dunia malam di dalam lingkar prostitusi.

Dan yang penting kehadirannya membuat garis tegas akan sikap bahwa, ” Hai perempuan, tempatmu bukan sebagai pemuas nafsu kaum laki-laki, tapi derajat dan martabatmu lebih dari itu, dengan menempatkan dirinya, dari sudut pandang setara dengan para perempuan itu.” Berani dan tegas, menjadi gaya dan ciri khas kepemimpinan Suroboyoan ala Tri Rismaharini.

Itulah contoh dari banyak kontribusi pemimpin perempuan era milenial.

Mereka berdiri, berjalan, bergerak, keluar dari zona nyaman, memberikan perubahan, warna, bahkan identitas yang jelas atas kepemimpinannya, yaitu rasa keibuan, dalam profesionalitasnya menjalankan berbagai macam profesi di masyarakat, mereka tak pernah meninggalkan jejak, bahwa nuraninya adalah seorang ibu, yang detail memberikan kontribusi serta arti, melindungi, dan mengayomi. Hingga tidak ada lagi kemudian, bagi banyak atau bahkan sebagaian perempuan, yang merasa terabaikan di tengah kepemimpinan kaumnya sendiri. (Han/Aini/Hll)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *