HUKUM MENYANTUNI YATIM YANG SUDAH BALIGH

Oleh :
Dr. Muhammad Subhan, MA
(Dewan Mejelis Pengasuh PP. Darul Qur’an Al Faqih Pamekasan)

Dalam Islam, ada dua kriteria untuk menentukan seseorang disebut yatim. Jika dua kriteria ini ada, maka disebut yatim. Sebaliknya, jika keduanya atau salah satunya tidak ada, maka tidak disebut yatim.

Pertama, seseorang yang ditinggal mati oleh bapak kandungnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitabnya at-Ta’rifat berikut:

اليتيم: هو المنفرد عن الأب؛ لأن نفقته عليه لا على الأم

“Yatim artinya seseorang yang bapaknya wafat karena nafkahnya wajib ditanggung bapaknya, bukan ibunya.”

Kedua, masih belum baligh. Jika sudah baligh, meskipun bapaknya meninggal, maka tidak disebut anak yatim. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Ishaq al-Syairazi dalam kitabnya al-Muhazzab berikut;

اليتيم هو الذي لا أب له وليس لبالغ فيه حق لأنه لا يسمى بعد البلوغ يتيماً

“Yatim adalah seorang yang tak punya bapak sedang dia belum baligh. Setelah baligh maka orang itu tak disebut yatim.”

Dalam kitab al-Mabsuth Imam al-Sarakhsi al-Hanafi juga menyebutkan sebagai berikut;

فإذا احتلم يخرج من اليتم

“Ketika seseorang itu sudah ihtilam, maka telah keluar dari sifat yatim.”

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Daud, Nabi saw bersabda;

لا يتم بعد الحلم

“Tidak disebut yatim orang yang telah hulm/baligh.”

Seseorang sudah disebut baligh dengan adanya salah satu tanda berikut, 1) keluar mani, baik melalui mimpi atau lainnya, 2) haid atau hamil bagi perempuan, 3) sudah berumur 15 tahun Qamariyah.

Oleh karena kalau sudah baligh tidak lagi disebut yatim, maka hilang pula keutamaan menanggung atau membantu anak yatim sebagaimana disebut dalam sejumlah hadits. Namun kalau tetap membantu, maka itu dianggap sebagai sedekah dan mendapat keutamaan pahala shodaqah secara umum, bukan atas nama yatim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *