Hikmah Ramadhan : EKOLOGIS DALAM PUASA (TAFSIR SURAH AL-BAQARAH AYAT 183)

Oleh : H. Muhammad Ruslan, MA
Dosen Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Dalam ajaran islam, puasa menempati posisi yang amat urgen, karena ia memiliki efek yang sangat signifikan, termasuk efek pada perilaku terhadap lingkungan hidup atau sekitar. Secara kebahasaan puasa diartikan menahan diri dari semua hal yang dapat membatal puasa, seperti makan dan minum atau berhubungan badan disiang hari,dll. Mulai terbitnya fajar hingga matahari terbenam. Dalam bahasa arab puasa disimbolkan dengan shiyam yang mengandung arti “Menahan diri dari segala tindakan” atau ” sikap yang merusak makna puasa”. Secara psikologis, praktek ibadah puasa telah memberikan efek yang sangat berarti bagi yang melaksanakannya. seorang yang berpuasa akan merasakan betul makna lapar dan dahaga. Dari sini, ia akan memiliki empati dan peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung yang ada di sekitarnya. Selain itu, Melalui puasa manusia dilatih untuk menjauhi hal-hal yang hukumnya haram. Melalui latihan ini hati diajarkan untuk selalu sadar bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi perbuatan kita. Pada titik inilah, puasa mendidik manusia untuk selalu jujur pada hati nurani karena disanalah ada suara tuhan.

Selain memiliki makna psikologis ,social, dan spiritual puasa juga mempunyai makna ekologis yang sangat dalam. Jika kita kembali kepada makna puasa yang dikemukakan diatas, kita akan menemukan bahwa puasa sesugguhnya mendorong kita untuk memiliki cara pandang dan sikap yang ramah lingkunagan. Makna dasar puasa adalah menahan diri dari segala tindakan yang membatalkan puasa. Frase ‘’menahan diri dari hal yang membatalkan’’ tidak hanya dipahami sebatas tidak makan dan minum pada siang hari dan kembali makan saat waktu berbuka puasa. frasa tersebut menyadarkan kita tentang makna ekologis , dimana umat islam harus menyadari bahwa puasa seharusnya menyadarkan kita untuk mengetahui dan peduli pada kondisi lingkungan dan alam sekitar. Menjaga dan merawat lingkungan agar tidak terjadi kerusakan. Dan hal ini merupakan bagian inti dari makna puasa secara ekologis.

Puasa: membangun kesalehan ekologis.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan kesalehan adalah ketaatan,ketundukan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah, dan kesunguhan menjalankan ajaran agamanay yang tercermin dalam kehidupan seharinya. Definisi tersebut memiliki arti sama dengan definisi ketaqwaan yaitu menjalankan kewajiban yang diperintah oleh allah dan menjauhi perbuatan yang dilarang-nya. Maka kesalehan dan ketaqwaan dua jalan sama beribadah kepada allah untuk membangun nilai-nilai spiritual yang berdemensi ketuhanan, kemnusian dan ekologis (lingkungan).

Ibadah puasa ramadhan perspektif surah al-baqarah ayat 183 bertujuan untuk membentuk manusia yang bertaqwa yang berdemensi ketuhanan ,kemanusian,dan ekologis. Firman Allah SWT

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa .

Hal ini mengandung pesan ekologis bahwa puasa di bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk membangun kesadaran dan kesalehan ekologis karena bertepatan dengan umat islam menjalankan ibadah puasa yang mempunyai kesadaran spritualitas yang lebih baik dibandingkan dengan bulan lain diluar ramadahan.

Esensi kesalehan ekologis adalah manusia mampu menjaga ,melestarikan, mengelola dan memperbaiki dan mendaya gunakan lingkungan demi kesejahteraan hidup manusia sekaligus memberikan kenyamanan untuk beriadah dan mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dengan memiliki kesalehan ekologis,diharapkan sikap dan tindakan manusia semakin harmonis dan ramah terhadap lingkungan hidup sekitarnya, karena manusia juga yang akan merasakan akibatnya apabila bersikap saleh dalam lingkungan yang di domisili. Paling tidak, ada dua alasan mendasar membangun kesadaran kesalehan ekologis, yaitu pertama, lingkungan hidup beserta sumber daya alamnya yang lestari pada gilirannya akan menjamin keberlanjutan proses pembangunan. Kegiatan pembangunan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia, bahkan dapat merubah tatanan sumber daya alami menjadi sumber daya buatan. Kedua, Martabat manusia dan kualaitas hidupnya bergantung pada tempat lingkungan hidupnya. Dalam arti buruk baiknya lingkungan akan berpengaruh pada kualitas manusia didalamnya.

Manusia memiliki kecenderungan lebih mudah memanfaatkan dan merusak lingkunagan hidup, dari pada menanam dan menjaga kelestariannya. Oleh karena itu membendung nafsu serakahUntk mengeksplotasi alam itu jauh lebih sulit dari pada menumbuhkan kesadara dan kesalehan ekologis. Disinilah perlunya konsep kecerdasan ekologis berkaitan erat dengan makna ibadah puasa sebagaimana tersirat dalam ayat di atas. Secara etimologis puasa bermkana menhan atau menhan diri dari segala hal yang membatalkannya.dalam pandangan ulama sufi, puasa mempunyai engertian yang sangat luas dan tinggi, puasa bukan sekedar menahan mnum dan makan sebagaimana menurut terminology fiqih , tetapi puasa adalah menahan semua anggota tubuh , fikiran dan hati dari segala macam perbuatan dosa. Ketika seseorang melakukan ibadah puasa tidak hanya dilatih secara spiritual dan social ,tetapi sesngguhnya juga dilatih kecerdasannay secara ekologis.untuk itu,menahan untuk tidk melakukan kerusakan dibumi,melakukan tidak membuang sampah bukan pada tempatnya ,menahan untuk tidak mebuang limbah sembarangan, Manahan untuk tidak mengunakan air dengn boros,menahan untuk tidak melakukan pencemaran, menahan untuk tidak mengeksploitasi alam berlebihan,dan sebaginya adalah gambaran dari kesalehan ekologis.

Salah satu tujuan ibadah puasa adalah melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama nafsu yang negative yang membisikkan kepada manusia untuk berbuat buruk. Pengendalian nafsu dengan berpuasa tidak ahanya bersifat personal,seperti : Menahan amarah ,menahan diri dari yang membtalkan puasa ,namun juga menahan nafsu yang berhubungan dengan alam semesta.

Semoga ibadah puasa ramadhan tahun ini walaupun mewabahnya virus corona (COVID-19) tidak hanya diartikan dengan aktivitas ibadah yang sifatnya hanya berorentasi pada kebutuhan untuk memenuhi spiritual belaka, akan tetapi ibadah puasa yang dihiasi dengan perilaku sadar lingkungan sebagai khalifah bumi. (aini/hli/han)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *